Harta Karun VOC : Mitos atau Fakta?

Di sebuah negara “galau” seperti Indonesia, biasanya sering bermunculan mitos atau legenda yang aneh-aneh dan cenderung irrasional, seperti Ratu Adil dan harta karun. Legenda harta karun VOC sebenarnya bukan cerita baru karena banyak orang menghubungkannya dengan peristiwa kapal-kapal VOC yang karam di perairan Indonesia, yang kebetulan ditemukan sedikit harta karun di reruntuhannya, sekedar informasi antara tahun 1602-1795 diperkirakan terdapat 105 kapal VOC yang tenggelam di perairan nusantara. Ada juga thesis yang menyatakan bahwa Indonesia bersedia menerima warisan hutang pada saat penyerahan kedaulatan tahun 1949 dari Belanda (Konferensi Meja Bundar) sebesar 6 milyar gulden (setara dengan USD 1,13 milyar pada waktu itu) karena Belanda juga mewariskan harta karun berupa emas yang nilainya jauh lebih besar untuk membayar hutang-hutang tersebut.
Thesis yang terakhir ini cukup menarik karena memang faktanya Indonesia mewarisi hutang sedemikian besar dari Belanda. Pertanyaannya, dimana Belanda menyembunyikan harta karun itu?. Untuk mengurai benang sejarah ini ada baiknya kita flash back ke sejarah VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie) atau Perserikatan Dagang Hindia Timur yang berdiri tahun 1602. Wilayah kekuasaan VOC meliputi hampir 1/3 dunia, dimulai dari Tanjung Harapan di Afrika Selatan sampai ke Jepang di Timur Jauh . Indonesia hanyalah salah satu dari sekian banyak wilayah VOC yang mulai digarap pada tahun 1610 dengan diangkatnya Pieter Both sebagai Gubernur Jenderal VOC yang pertama di Batavia, Hindia Belanda.
Untuk memperluas pengaruhnya, seringkali VOC harus memerangi kerajaan-kerajaan besar di nusantara, seperti Gowa dan Mataram. Gowa jatuh tahun 1667 dengan ditandatanganinya perjanjian Bongaya setelah kekalahan Sultan Hasanuddin. Kemudian Mataram menyusul jatuh pada tahun 1680 setelah Sultan Amangkurat II berhasil menumpas pemberontakan Trunojoyo dengan bantuan VOC. Seperti kata pepatah, there is no free lunch, tidak ada makan siang yg gratis, VOC meminta imbalan monopoli perdagangan di sepanjang pantai utara Jawa dari Karawang sampai ke Panarukan. Praktis setelah itu Mataram lumpuh karena tidak memiliki pelabuhan lagi, Mataram tidak lebih hanya sebagai boneka VOC di Pulau Jawa.
Pada waktu memerangi kerajaan-kerajaan ini, VOC membutuhkan prajurit dalam jumlah besar yang dipimpin panglima-panglima perang yang tangguh, tahu sendiri pada waktu itu nenek moyang kita kan (katanya) sakti2. Salah satu panglima perang VOC yang terkenal yaitu Admiral Cornelis Janson Speelman, dialah figur yang berhasil menaklukkan Kerajaan Gowa dan Mataram pada masa kepemimpinan Gubernur Jenderal Johan Maetsuyker. Speelman kemudian menjadi Gubernur Jenderal VOC periode 1681-1685. Speelman tidak bekerja sendirian, ia dibantu oleh 2 orang pribumi yang sangat terkenal pada zamannya : Aru Palaka dari Bone dan Kapiten Jonker dari Ambon, keduanya muslim yang taat. Terus kenapa Aru Palaka dan Kapiten Jonker bersedia membantu Speelman? Jawabnya, bukan etnis, suku atau agama yang mempersatukan manusia. Tapi uang dan kekuasaan.
Speelman bersama Aru Palaka dan Jonker diberikan imbalan yang luar biasa atas jasa-jasanya kepada VOC. Mereka bertiga orang-orang yang cerdas dan visioner, karenanya mereka meminta imbalan berupa monopoli emas di Pantai Barat Sumatera. Tepatnya di daerah Salido Ketek, Kabupaten Painan, Provinsi Sumatera Barat. Bagi yang pernah mengunjungi obyek wisata jembatan akar di Painan, lokasinya tidak jauh dari sana. Mereka bertiga yang dikenal dengan sebutan Monsterverbond (Persekutuan Jahat), memahami bahwa nilai emas tidak akan banyak berubah bahkan cenderung meningkat dari waktu ke waktu.
Monsterverbond memanipulasi laporan produksi emas di Salido yang seharusnya hasilnya disetorkan kepada VOC. Produksi emas di Salido diperkirakan sangat besar karena emas-emas dari daerah pedalaman Sumatera Barat seperti Tiga Belas Koto, Agam, Tanah Datar dan Lima Puluh Koto diolah dan diperdagangkan di Salido. Mereka bertiga pada masanya menjadi orang paling berpengaruh di Nusantara karena kepemilikan harta yang luar biasa besarnya. Speelman menjadi Gubernur Jenderal VOC, Aru Palaka menjadi Raja Bone dan Kapiten Jonker menjadi salah satu panglima perang VOC paling berpengaruh. Tetapi ” hasil korupsi” yang mereka lakukan tetap tidak jelas dimana disimpannya sampai saat ini. Ada yang bilang harta karun itu disimpan oleh Pieter Erberveld beserta keturunannya yang merupakan sahabat dekat klan Monsterverbond, dan karenanya Erberveld dihukum mati VOC tahun 1722 karena tidak mau memberitahukan rahasia harta karun itu kepada pemerintah. Sejarah yang sering kita dengar mengenai Jakarta Tempo Dulu, umumnya menyebutkan Erberveld ditangkap karena mengobarkan pemberontakan bersama sekutu pribuminya, Raden Kartadriya. Setelah Erberveld dihukum mati, praktis cerita mengenai harta karun juga makin surut.
Saya sendiri beranggapan bahwa harta karun VOC itu tidak pernah ada, itu hanya mitos yang diciptakan Belanda sebagai strategi supaya kita mau menerima warisan hutangnya saat penyerahan kedaulatan. Kalaupun harta karun itu ada,  sebenarnya berada di Tembagapura yang kini dikuasai Freeport. Analisa gw sederhana saja, dulu pada waktu Bung Karno membebaskan Irian Barat melalui operasi Trikora, kenapa Amerika tidak memihak Belanda, padahal sebagai sesama anggota NATO seharusnya Amerika membantu Belanda yang merupakan sekutu dekatnya. Rupanya sejarah berulang, kalau dulu Mataram meminta bantuan VOC untuk memadamkan pemberontakan Trunojoyo dan diberi imbalan monopoli perdagangan pantai utara Jawa, sekarang Pemerintah RI harus berterima kasih kepada Amerika yang “mendukung” perjuangan merebut Irian Barat, untuk kemudian diberikan imbalan konsesi tambang paket komplit (bayangkan disana bahan tambangnya lengkap, dari tembaga, emas, sampai uranium pun ada disana) yang dipegang oleh Freeport. Amerika sudah sejak lama tahu ada potensi besar di tanah Papua, dan mereka melihat peluang itu terbuka lebar saat Indonesia berjuang merebut Irian Barat. Di awal abad 21 ini, kita mungkin pernah mendengar gosip mengenai kandungan emas di selatan Jawa Barat yang luar biasa besar, bahkan katanya sanggup untuk melunasi hutang luar negeri kita. Apapun itu semoga sejarah tidak kembali berulang dan aset tersebut jatuh ke tangan yang salah.

So, harta karun tinggal kenangan cerita di negeri dongeng sana. Kata teman gw yang orang Yahudi : harta karun terbesar itu ilmu pengetahuan, dan kunci peti hartanya adalah pengamalan ilmu tersebut supaya bermanfaat untuk pembangunan negaranya. Lihatlah Israel dan Singapura, mereka tidak memiliki sumberdaya alam apa2, karakteristik negaranya juga hampir sama : sama2 negara non muslim di tengah kepungan negara muslim. Makanya mereka hebat, karena otaknya selalu dipacu untuk berinovasi supaya bisa survive, perekonomiannya maju, dan angkatan bersenjatanya kuat.

Rizka Bayu